Hydroclean


Sejak Eric lahir, dia dinyatakan mempunyai hiperaktivitas bronkus kondisi yang sensitif terhadap faktor-faktor luar terutama debu. Kalau lagi kambuh, nafasnya Eric sesek dan bunyi grok grok. Dan biasanya gak lama setelah itu banyak dahak/slim di dada jadinya dia batuk batuk. Dari sisi medis kalau masih taraf ringan, Eric biasanya dikasih puyer untuk diminum seminggu dan berangsur-angsur membaik. Tapi kalau udah akut, biasa ditambah dengan treatment inhalasi. 

Dari sisi kondisi rumah, gue dan suami disarankan oleh DSA agar kamar dan lokasi lokasi di rumah yang Eric sering berada supaya dibersihin total (dan rutin dibersihkan). Alhasil di awal-awal gue sama suami pun bebersih sampe gempor plus beli air purifier yang dipasang tertama malam hari pas tidur.

Eric membaik tapi grok grok nya masih cuman setiap pagi bangun tidur. Kita konsul dengan DSA lagi dan menurut beliau kemungkinan besar kamar tidurnya belum bersih banget dikarenakan grok grok nya hanya pagi hari menjelang bangun tidur. Dimana dia terpapar faktor alergen selamelan.
Soalnya kalau siang-siang Eric oke oke aja tuh.

Bingung juga karna kayanya kita udah bersihin banget banget ni kamar. Akhirnya hasil dari gugel-gugel dan browsing di Instagram mamah mamah muda ketemulah penyelamat kami yaitu HydroClean.

Eric turns one

This is yet another milestone for me and hubs as a parent.

Gak nyangka aja kita sudah sampai di akhir tahun pertama setelah Eric dilahirkan.  Masih ada rasa percaya dan ga percaya kalau anak kita sudah menginjak umur 1 tahun.

Eric-ku sayang, semoga kamu menjadi anak yang baik, pinter, bermanfaat untuk orang lain, dan menjadi kebanggaan mama dan bapak. Amin :)

Legenda Puncak Pass


Puncak Pass adalah salah satu restoran langganan keluarga gue sejak gue masih kecil banget. Waktu jaman dulu, Alm nenek tinggalnya di Bandung dan jalan tol belum ada ya. Jadi kita kalau ke Bandung biasanya cuman ada dua pilihan dari Jakarta mau lewat Cikampek atau Puncak. Kita ga selalu lewat Puncak sih, tapi kalau iya kita pasti mampir ke Puncak Pass.

Pulau Pari


Hari Kamis kemarin saya dan suami ikut short getaway ke Pulau Pari dengan divisi kantor saya. Seneng banget akhirnya bisa ikutan acara-acara outting di kantor karena 2 tahun terakhir saya ga ikutan dikarenakan sedang hamil dan menyusui. Acaranya sendiri hanya 1 hari pulang-pergi karena Jumatnya masih harus masuk kerja hehehehe...

Alhamdulilah meskipun sangat singkat tapi acaranya seru banget kumpul-kumpul dengan teman-teman kantor dan keluarganya. Kadang di kantor kita hanya ngomongin kerjaan doang, jadi seru juga rasanya bisa hangout bareng seharian tanpa ngomongin kerjaan. Sekalian berkenalan dan silahturahmi dengan pasangan/keluarga masing-masing.

Toleransi


Di luar orang-orang yang beruntung mendapatkan beasiswa, banyak orang awam yang beranggapan kuliah di luar negeri itu semata-mata hanya untuk sebatas educational degree untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik in the future maupun investasi jangka panjang (e.g. bergaji dan posisi tinggi, perusahaan terbaik, dll). Adapun yang beranggapan kuliah di luar negeri adalah untuk prestis dan gengsi keluarga karena orangtua dapat menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri dengan biaya pribadi.

Gue jadi inget beberapa tahun yang lalu di kantor ada beberapa teman yang sedang diskusi santai mengenai aspirasi tentang education anak-anaknya dari segi biaya sampe dengan sekolah - sekolah idaman/tujuan yang mereka mau anak-anaknya bersekolah. Kalau ngomongin soal sekolah rasanya ga mungkin kalau topik biaya tidak diikutsertakan dimana dibahas biaya untuk kuliah ke luar negeri jumlahnya berkali-kali lipat dibandingkan dengan kuliah di negeri sendiri.

Disini tiba-tiba ada yang nyeletuk "Ngapain kuliahin anak ke luar negeri mahal-mahal? Mending uangnya dipake buat yang lain. Tuh liat si Sari, kuliah jauh jauh ke Amerika ujung-ujungnya juga sama kaya kita kan?"

Jujur, saat itu juga gue kesel banget. Ngapain juga bawa-bawa nama gue? Tapi lama-lama gue antara ngeh dan ngerasa sedih juga karena gue baru ngerti bahwa pemahaman mereka mengenai kuliah di luar negeri hanya sebatas mata kuliah dan pekerjaan. Perhaps they will never know what they missed out in life...ever.

Tedak Siten alias Turun Tanah


Sebagai keturunan Jawa yang baik (baca: Jawa reject), gue dan suami bikin acara turun tanah atau bahasa jawanya tedak siten untuk Eric ketika dia umur 7 bulan.

First time driving in america


My cousin Sasti came down and move to Washington DC for her MBA years ago. This is actually a very old video where she just got herself a car and driver's license and was trying to make her way from her place to the campus before starting her first semester.

Reza (still her bf at that time) were trying to show her to navigate the road with a GPS as she was adjusting to drive on the different side of the road with the American left driver's seat as oppose to the Indonesian right driver's seat.

It took her 45 minutes to drive from her place to the campus on this first attempt during a regular hours. Then later we figured that most of her classes are in the mornings where her commute will be during rush hour. That should add another 20-30 minutes ride with traffic. Yikes.

Meanwhile I was just becoming a useless commentator through out the trip. LOL. Not sure if I was helping to ease her nerves in any way but it was so funny to see this in the video again. Good times!

Review: Shiseido Natural Eyebrow Pencil


Brow game has been a very hot for the past few years.

If you're one of the unlucky ones who has sparse eyebrow, then keep reading. Every time I mention eyebrow, somehow, Anastasia products always comes to mind. But I personally never used their products because I had found my holy-grail long before Anastasia came around.

Professional Blog Designs by pipdig